Wawancara Khusus : Pilar Ketahanan Pangan Masa Depan Umat Manusia
Bersama Dede Farhan Aulawi
Bandung — Dalam wawancara khusus kali ini, redaksi berbincang dengan Dede Farhan Aulawi, seorang pemerhati ketahanan nasional yang banyak menyoroti isu-isu strategis terkait pangan dan energi. Ia menegaskan bahwa ketahanan pangan adalah fondasi utama bagi keberlangsungan hidup umat manusia dan menjadi tantangan global yang semakin kompleks di masa depan.
Menurut Dede, persoalan pangan tidak bisa lagi dilihat hanya dari sisi produksi. “Kita menghadapi berbagai dinamika global — mulai dari perubahan iklim, degradasi lingkungan, pertumbuhan populasi, hingga konflik geopolitik yang mempengaruhi distribusi sumber daya. Karena itu, pembangunan ketahanan pangan harus menyentuh semua aspek, dari hulu hingga hilir,” ujarnya.
Dalam pandangannya, ada lima pilar utama yang menjadi kunci dalam membangun ketahanan pangan masa depan.
Pertama, sistem produksi pangan yang berkelanjutan. “Model pertanian lama yang bergantung pada pestisida kimia dan monokultur sudah tidak relevan. Kita harus bergerak ke arah pertanian presisi, bioteknologi, dan sistem regeneratif yang menjaga keseimbangan alam,” jelasnya.
Kedua, Dede menekankan pentingnya pemerataan akses dan distribusi pangan. “Kelaparan dan pemborosan pangan terjadi secara bersamaan di dunia. Ironi ini bisa diatasi dengan digitalisasi rantai pasok, infrastruktur logistik yang merata, dan kebijakan perdagangan yang adil,” tuturnya.
Ketiga, kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim dan krisis global. Ia menegaskan pentingnya membangun sistem pangan yang tangguh (resilient). “Diversifikasi sumber pangan, pengembangan bank genetik tanaman lokal, serta cadangan pangan nasional harus menjadi prioritas. Kolaborasi antarnegara juga mutlak diperlukan,” paparnya.
Keempat, kesadaran dan pendidikan masyarakat terhadap pola konsumsi sehat. “Masalah pangan tidak hanya dari sisi produksi, tapi juga kebiasaan konsumsi. Edukasi gizi dan gaya hidup berkelanjutan akan mendorong masyarakat memilih pangan lokal, bergizi, dan ramah lingkungan,” katanya.
Terakhir, inovasi teknologi dan kebijakan publik yang inklusif. “Pemerintah, sektor swasta, dan lembaga riset harus bersinergi dalam mengembangkan teknologi seperti urban farming, vertical farming, protein alternatif, hingga sistem pertanian berbasis Internet of Things (IoT). Namun yang terpenting, teknologi itu harus bisa diakses oleh petani kecil,” tegasnya.
Menutup wawancara, Dede menyampaikan pesan kuat:
“Ketahanan pangan masa depan bukan sekadar urusan produksi. Ini adalah tantangan multidimensi yang menyangkut keadilan, keberlanjutan, dan kemanusiaan. Masa depan pangan dunia ada di tangan kita. Apakah kita siap membangun sistem yang adil, tangguh, dan berkelanjutan, atau membiarkan krisis pangan menghantui generasi mendatang.”
Redaksi
Release oleh: Tim Redaksi
Keyword: ketahanan pangan, inovasi pertanian, produksi berkelanjutan, distribusi pangan, kebijakan publik, teknologi pertanian, Dede Farhan Aulawi.
















