Oleh: Dede Farhan Aulawi
Dalam mitologi Yunani dikenal istilah Cassandra Paradox. Dalam konteks modern, istilah ini merujuk pada fenomena ketika seseorang atau kelompok memberikan peringatan penting tentang bencana atau krisis yang akan datang, namun diabaikan oleh masyarakat atau para pengambil keputusan karena dianggap pesimis atau tidak sesuai dengan narasi dominan. Dengan kata lain, Cassandra Paradox menggambarkan situasi di mana prediksi atau peringatan tentang bahaya yang akan terjadi terbukti benar, tetapi tidak dipercaya pada saat disampaikan.
Istilah ini menjadi populer ketika Bung Rocky Gerung menyebutnya dalam sebuah diskusi di televisi nasional. Sejak itu, banyak orang mulai mencari literasi terkait Cassandra Paradox, bahkan sebagian menanyakan langsung melalui telepon. Oleh karena itu, penjelasan ini penting untuk memperluas pemahaman publik.
Asal-usul dalam mitologi Yunani
Cassandra adalah putri Raja Priam dari Troya yang diberi kemampuan meramal masa depan oleh dewa Apollo. Namun karena menolak cinta Apollo, ia dikutuk: tetap bisa meramal dengan benar, tetapi tidak seorang pun akan mempercayainya. Akibatnya, ketika Cassandra memperingatkan bahwa menerima kuda Trojan akan membawa kehancuran, tidak ada yang mendengarkannya, hingga bencana itu benar-benar terjadi.
Makna dalam konteks modern
Dalam dunia modern, istilah ini dipakai untuk menggambarkan ilmuwan, ahli, atau individu yang memberi peringatan berbasis data dan analisis akurat, tetapi suaranya diabaikan oleh masyarakat, media, atau pihak berwenang. Akhirnya, peringatan itu terbukti benar, namun sudah terlambat.
Salah satu contoh nyata adalah isu perubahan iklim. Para ilmuwan sejak lama memperingatkan dampaknya terhadap bumi, namun sering kali peringatan tersebut diabaikan, diperdebatkan, atau bahkan dipolitisasi. Ironinya, dampak yang mereka ramalkan kini semakin nyata.
Relevansi dalam politik modern
Istilah paradox muncul karena situasi ini sarat ironi: orang yang benar justru tidak dipercaya, meskipun niatnya menyelamatkan. Hal ini menimbulkan frustrasi, baik bagi si pemberi peringatan maupun masyarakat yang akhirnya menjadi korban.
Dalam politik kontemporer, fenomena ini sering terlihat. Ada tokoh atau pihak yang menyampaikan kebenaran demi menyelamatkan bangsa dari “tsunami politik” yang berpotensi merusak sendi kehidupan bernegara, tetapi suara mereka diabaikan. Sementara itu, kebohongan justru mendapat tempat karena ditopang oleh kekuatan uang, opini buzzer, dan pengaruh media, sehingga tampak seolah-olah sebagai kebenaran.
















