Oleh : Dede Farhan Aulawi
Air mata adalah bahasa hati yang tidak selalu mampu diterjemahkan oleh lisan. Kadang seseorang tampak diam, tetapi di dalam dirinya sedang terjadi pergolakan jiwa yang begitu dalam. Dalam pandangan manusia, air mata sering dianggap sebagai tanda kelemahan. Namun dalam pandangan Allah SWT, tidak semua air mata bernilai sama. Ada air mata yang lahir karena penyesalan, ketakutan, kerinduan, dan keikhlasan yang justru sangat dicintai oleh Allah SWT.
Salah satu air mata yang disukai oleh Allah adalah air mata karena takut kepada-Nya. Tangisan seperti ini bukan muncul karena putus asa, melainkan karena hati menyadari kebesaran Allah dan kecilnya diri di hadapan-Nya. Ketika seseorang merenungi dosa-dosanya, mengingat kelalaiannya, lalu hatinya bergetar hingga meneteskan air mata, saat itulah ia sedang menunjukkan kejujuran iman. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa di antara golongan yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat adalah seseorang yang berzikir dalam kesendirian lalu kedua matanya berlinang. Tangisan itu menjadi bukti bahwa hubungan seorang hamba dengan Tuhannya tidak hanya sebatas ucapan, tetapi sampai menyentuh relung jiwa.
Air mata yang dicintai Allah juga adalah air mata taubat. Tidak ada manusia yang luput dari salah. Namun kemuliaan seorang hamba bukan karena ia tidak pernah berdosa, melainkan karena ia mau kembali. Ketika seseorang menangis dalam sujud malamnya, memohon ampun atas kesalahan yang pernah dilakukan, maka air matanya menjadi saksi bahwa pintu taubat sedang diketuk dengan ketulusan. Allah mencintai hamba yang kembali kepada-Nya, sebab taubat adalah pengakuan bahwa manusia lemah dan Allah adalah tempat kembali yang paling sempurna.
Selain itu, Allah menyukai air mata kasih sayang. Air mata yang menetes karena melihat penderitaan orang lain, karena iba kepada anak yatim, karena peduli kepada sesama yang tertindas, adalah pertanda bahwa hati masih hidup. Hati yang lembut lebih dekat kepada rahmat Allah daripada hati yang keras. Orang yang mudah menangis karena menyaksikan kesedihan saudaranya menunjukkan bahwa dalam dirinya masih ada cahaya kemanusiaan. Islam mengajarkan bahwa kelembutan hati adalah bagian dari iman, dan air mata belas kasih merupakan buah dari hati yang penuh rahmat.
Air mata yang mulia di sisi Allah adalah pula air mata kerinduan kepada-Nya. Ada hamba yang merindukan perjumpaan dengan Allah, merindukan surga-Nya, merindukan ketenangan saat bermunajat kepada-Nya. Tangisan seperti ini bukan tangisan duka, tetapi tangisan cinta. Ketika seorang hamba membaca ayat-ayat Al-Qur’an lalu hatinya luluh, ketika ia berdoa lalu dadanya terasa sempit oleh rindu kepada Rabb-nya, maka air mata itu menjadi tanda kedalaman cinta spiritual yang tidak semua orang dapat merasakannya.
Namun sebaliknya, tidak semua tangisan bernilai ibadah. Air mata yang keluar karena riya, karena ingin dipuji manusia, atau tangisan yang lahir dari penolakan terhadap takdir tidak termasuk air mata yang dicintai Allah. Yang Allah nilai bukan sekadar tetesannya, melainkan niat yang tersembunyi di baliknya. Bisa jadi seseorang tidak menangis di depan manusia, tetapi hatinya basah oleh rasa takut kepada Allah, dan itu jauh lebih mulia daripada tangisan yang dibuat-buat.
Pada akhirnya, air mata yang disukai oleh Allah SWT adalah air mata yang lahir dari hati yang hidup. Hati yang mengenal Tuhannya, menyesali dosanya, mencintai sesamanya, dan merindukan perjumpaan dengan Rabb-nya. Di mata manusia air mata mungkin tampak biasa, tetapi di sisi Allah satu tetes air mata yang tulus bisa menjadi sebab datangnya rahmat dan keselamatan. Karena itu, jangan malu menangis di hadapan Allah, sebab bisa jadi air mata yang jatuh dalam sunyi adalah air mata yang paling berharga di sisi-Nya.
















